Peran Lasykar Hisbullah Mojokerto dalam Perang 10 November tahun 1945-1947

Abstrak

Pertempuran Surabaya merupakan salah satu perlawanan yang dilakukan di daerah-daerah dalam usaha memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ditinjau dari beberapa aspek pertempuran ini termasuk salah satu yang terbesar di Indonesia. Dibalik pertempuran Surabaya terdapat banyak barisan berani mati yang berjuang untuk mempertahankan kota agar tidak direbut sekutu, salah satunya lasykar Hizbullah yang lahir dari kota Mojokerto. Lasykar hizbullah juga terlibat dalam usaha mempertahankan kota mojokerto ketika ibukota Jawa timur digeser mundur ke Mojokerto.

Tujuan penulisan dari sejarah Lasykar Hizbullah Mojokerto ini untuk memberi sudut pandang lain kepada masyarakat bahwa pihak yang bergerak pada perang 10 Nopember tidak hanya barisan- barisan pemuda nasionalis namun juga pemuda dengan nafas agama islam turut mengambil andil.  Dan juga memberi manfaat wawasan kepada pembaca mengenai pemindahan Ibukota Jawa Timur pada masa 1945-1947.

Dari metode penelitian yang digunakan untuk menulis kali ini adalah metode penelitian sejarah yang melalui beberapa tahapan yakni pengumpulan sumber, kritik sumber, intepretasi dan historiografi.

 

Kata Kunci : Pertempuran 10 Nopember, Lasykar Hizbullah Mojokerto, Kota Mojokerto

Pendahuluan

Ketika Jepang menguasai Indonesia pada tahun 1942, organasasi – organisasi bernafaskan Islam diakui keberadaannya. Hal tersebut untuk mandapatkan simpati dan bantuan rakyat terutama melibatkan Ulama. Organisasi Islam seperti NU dan Muhammadiyah diakui Jepang secara resmi ada bulan September 1943. Selanjutnya ormas – ormas Islam yang telah diakui tersebut diperkenankan Jepang untuk membentuk organasasi federasi dengan nama Majelis Syuro Muslimin Indonesia ( Masyumi) pada akhir 1943. Jepang melibatkan kaum muslim ke garis depan depan pertempuran namun untuk kepentingan Jepang. Kemudian dibentuklah Hizbullah yang dalam bahasa Jepang, Kaikyo Sainen Teishintai pada tanggal 15 Desember 1944. Dengan semangat keagaaman yang kental Hizbullah menjadi kesatuan yang memiliki tujuan berbeda dengan apa yang diingkan oleh Jepang.

Melalui Masyumi pemuda – pemuda islam untuk segera dikumpulkan dari seluruh Jawa dan Madura. Mereka akan dijadikan pasukan yang dinamakan “Hizbullah” yang artinya tentara Allah. Kemudian pada tanggal 28 Februari 1945 diadakan pelatihan tentara Hizbullah di Cibarusa. Begitupun Masyumi Mojokerto untuk mengirim kadernya ke pelatihan di Cibarusa. Setelah mengikuti latihan para kader tersebut kembali ke kota asal masing – masing diharapakan dapat membagikan ilmu yang mereka dapat di pelatihan Cibarusa pada pejuang – pejuang yang lain.

Lasykar Hizbullah Mojokerto seringkali mengikuti berbagai pertempuran untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam pertempuran 10 November Hizbullah Mojokerto diberangkatkan dan bergabung dengan Hizbullah dari berbagai daerah. Setelah Surabaya diduduki sekutu Hizbullah menyusun pertahanan baru. Dalam penyerangan sekutu di Mojokerto Hizbullah mengambil alih garis Mojosari – Japanan. Meskipun pada akhirnya Surabaya dan Mojokerto dapat dikuasai oleh sekutu, terdapat perjuangan nyata oleh kaum islam untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Metode Penelitian

Secara Garis besar penelitian ini dilakukan melalui teori dan metode penelitian sejarah. Sebelum masuk pada eksekusi penelitian, terlebih dulu kami menentukan ide, ruang lingkup, serta batasan-batasan.  Beberapa tahap pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

Pertama pengumpulan sumber yang penulis lakukan dengan cara mengumpulkan berbagai jurnal dari tahun 1945-1949, beberapa sumber koran-koran lama dan juga buku-buku yang menjadi sumber sekunder. Sumber-sumber jurnal maupun koran lama penulis dapatkan dari Badan Arsip Perpustakaan Pemerintah Daerah (Bappeda) Surabaya, sedangkan buku-buku kami peroleh dari beberapa perpustakaan yang dapat kami akses, terutama di perpustaan Jurusan Ilmu Sejarah, perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya, Perpustakaan Pusat Kampus B UNAIR, Perpustakaan Daerah Jawa Timur, serta buku-buku milik dosen dan milik pribadi.

Setelah sumber diperoleh, selanjutnya adalah kegiatan verifikasi sumber. Data-data yang sudah didapatkan akan diolah dan diklasifikasikan apakah data tersebut kredibel untuk digunakan atau tidak. Setelah data-data yang kredibel dikelompokkan, selanjutnya adalah proses interpretasi atau pemaknaan sumber-sumber tersebut. Pemaknaan disini meliputi penterjemahan sumber jika berbahasa asing atau pemaknaan dari segi tulisan agar didapatkan maksudnya. Jika sumber-sumber dan data yang diperlukan telah didapatkan, maka proses selanjutnya adalah penulisan hasil penelitian sejarah tersebut. Penulisan sendiri akan menggunakan metode penulisan deskriptif yang menjabarkan urut-urutan pembahasan bertahap mulai dari yang umum ke yang khusus.

Pembahasan akan dimulai dengan penulisan mengenai sejarah pertempuran 10 Nopember dan kondisi Surabaya pada masa tersebut. Selanjutnya adalah penulisan mengenai sejarah berdirinya Hizbullah sendiri beserta alur keterlibatannya dalam peperangan 10 Nopember. Dari hal ini kami tarik ke arah khusus mengenai peran dari lasykar Hizbullah pasca perang 10 Nopember dan Surabaya diduduki oleh sekutu. Dan akhirnya disempurnakan dengan peran dari lasykar Hizbullah di wilayah mojokerto ketika ibukota pemerintahan Jawa timur dipindah ke Mojokerto. Dan diakhir, jurnal akan ditutup dengan pemberian kesimpulan guna memudahkan alur dari pembaca.

  1. Kondisi Surabaya saat Pertempuran 10 Nopember dan Sejarah berdirinya Hizbullah

Mendaratnya sekutu pertama kali di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945 telah di beritakan oleh mentri penerangan Amir Syarifuddin yang berkediaman di kantornya Jakarta. Dalam mandat menteri tersebut menjelaskan bahwa kedatangan sekutu membawa maksud untuk melucuti senjata tentara Jepang yang kalah perang, mengembalikan tentara Jepang yang ditawan ke negeranya juga membebaskan seluruh tawanan Jepang yang ada di Surabaya. Maka menteri amir berpesan agar masyarakat Surabaya menyambut baik kedatangan dari tentara Sekutu. Namun masyarakat Surabaya mencurigai gelagat dari tentara inggris adalah salah satu cara untuk mengembalikan kolonialisme Belanda di Indonesia. Kecurigaan ini dipicu karena adanya P.J.G Huijer yang pertamakali datang atas perintah panglima tertinggi angkatan laut Sekutu di Asia Tenggara, Panglima Tinggi Patterson. Ia terang-terangan menolak revolusi kemerdekaan Indonesia yang membuat geram masyarakat hingga ia di kurung pada penjara kalisosok. (Suparto, 2012: 76)

Tentara sekutu yang ditugaskan di Indonesia antara lain adalah Divisi India ke-26, Divisi India ke 5, dan divisi India ke-25. Dan masing-masing dipimpin oleh Mayjend. H.M. Chamber, Mayjend E.C. Mansergh dan Mayjend D.C. Hawthorn. Divisi ini dibagi pada beberapa wilayah kerja, divisi 26 untuk wilayah Sumatra, divisi 5 untuk daerah Jawatimur dan divisi 25 untuk wilayah Jakarta dan Jawa Barat. Suruhan tentara Inggris ini disebut AFNEI yang kemudian terbukti memboncengi NICA. NICA adalahNetherlands Indies Civil Administration yang berniat menegakan kembali kekuasaan Belanda di Indonesia. (Rudik Utoyo,1976 : 30)

Sama seperti kedatangan bangsa sekutu di Jakarta yang juga diboncengi oleh NICA, Surabaya pun demikian. Orang-orang Belanda yang ada dalam NICA ini meminta agar tentara sekutu membebaskan tawanan-tawanan dari penjara republik juga merampas mobil-mobil yang dianggap sebagai cara provokasi bagi pemuda-pemuda Surabaya. Pada tanggal 28 Oktober 1945 pasukan rakyat Indonesia di Surbaya mulai melakukan serangan-serangan sengit pada tentara sekutu dan Belanda. Namun presiden Soekarno dan wakil Presiden Moh. Hatta meminta agar pertempuran dihentikan mengingat kepala dari divisi ke- 23 meminta perundingan perihal gencatan senjata sebagai bentuk itikad baik bagi bangsa Indonesia.

Sebelum gencatan senjata terjadi sebanyak 6000 pasukan sekutu berhasil dilumpuhkan oleh para rakyat Surabaya. Pada peristiwa ini juga lahir peristiwa besar lain yang mewarnai perjuangan masyarakat Indonesia. Ketika Jendral AWS. Mallaby dari perwakilan sekutu dan Dr. Sugiri dari Indonesia datang ke seluruh wilayah Surabaya untuk memberitahukan berita gencatan senjata, mobil dari jendral mallaby terkepung di wilayah dekat jembatan merah tepatnya depan hotel Internatio. Tentara sekutu yang mengetahui hal itu segera berusaha menyelamatkan jendralnya dengan menembak kearah tentara Indonesia dari berbagai sisi, namun justru kerusuhan tidak dapat dihindarkan. Mobil sedan dari Jendral AWS Mallaby meledak akibat lemparan granat tangan. Hal ini membuat sekutu mengeluarkan ultimatum yang ditandatangani oleh Mayjend E.C. Mansergh dengan memuat perintah bahwa bangsa Indonesia harus menyerah tanpa syarat pada tanggal 9 Nopember 1945.(Sudiro, 1945: 30)

Namun ultimatum ini dikeluarkan tanpa adanya sebuah perundingan dengan pihak Indonesia sehingga dianggap sebagai penghinaan bagi bangsa Indonesia. Isi dari ultimatum ini adalah semua pemimpin indonesia harus menyerahkan senjatanya di tempat-tempat yang telah ditentukan dan menyatakan menyerah dengan tanda mengangkat tangan keatas batas waktunya sampai tanggal 10 nopember 1945 pukul 06.00. ultimatum ini disampaikan melalui pamflet yang disebarkan oleh helikopter-helikopter Belanda yang terbang diatas langit Surabaya. Namun pada tanggal 9 Nopember 1945 Gubernur Jawa Timur, R. Soeryo mengadakan hubungan telepon dengan pemerintah pusat mengenai sikap yang harus diambil untuk permasalahan ini. Dan pemerintah pusat memberi tanggapan dengan menyerahkan seluruh keputusan dan kebijakan pada pimpinan jawa Timur di tempat.

Setelah datangnya sikap pemerintah pusat yang menyerahkan penuh segala kebijakan tersebut. Gubernur Soeryo segera mengadakan pertemuan dengan pemimpin pemuda maupun pemimpin pasukan di Surabaya. Diantaranya adalah K.H. Mas Mansyur, K.H. Abdul Wahab Hasbullah, Bung Tomo, Roeslan Abdul Ghani dan Dul Arwono (Bustami: 227). Pertemuan ini untuk menentukan strategi dan sikap dari pasukan Indonesia.

Saat tanggal 10 Nopember 1945 hingga pukul 06.00 pagi belum ada seseatu yang menandai peperangan hingga selepas pukul 06.00 ditandai dengan adanya bombardir dari wilayah pantai Surabaya dan pemboman di berbagai tempat penting tengah kota. Inggris memulai serangannya dengan menembakan meriam dari arah tanjung perak serta bombardir dari udara.  Perang besar pun pecah, Inggris yang mengirim pasukannya hingga 10.000 hingga 15.000 ini mengepung Surabaya melalui berbagai tempat diantaranya darat, laut dan udara. Perjuangan segala lini telah diberikan oleh pasukan Indonesia yang tergabung dalam berbagai laskar-laskar rakyat. Perjuangan ini dilaksanakan selama 21 hari berturut-turut hingga akhirnya Surabaya resmi ditinggalkan oleh penduduk dan pasukan pejuang Indonesia melangkah mundur dari wilayah Surabaya. Banyak laskar yang berjuang pada garis terdepan pertempuran Surabaya, salah satu yang menarik adalah Hizbullah. Sebuah laskar pejuang bernafaskan islam yang pertama kali dibentuk oleh pemerintah Jepang.

Jepang sangat teliti melihat kultur dari masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama islam. Pemerintah Jepang mengetahui bahwa masyarakat mayoritas ini menganggap bahwa Belanda adalah orang-orang kafir sehingga layak untuk diperangi. Dari hal tersebut Jepang belajar untuk memperhatikan orang-orang islam ini sebagai salah satu lini untuk mendekati hati masyarakat Indonesia. Dengan pendekatan kepada para pemimpin-pemimpin islam di Indonesia dengan mengadakan konferensi di Jakarta pada bulan September 1942. Namun konferensi ini membawa hasil yang tidak sesuai dengan keingingan Jepang. Mengingat pihak-pihak pemimpin islam di Indonesia tidak setuju untuk bersekutu dengan Jepang. Maka pihak Jepang berfikir akan mengganti MIAI dengan sebuah organisasi Islam yang bersedia bergerak di bawahnya.

Pada Oktober 1942 diadakan pertemuan para pemimpin daerah-daerah kependudukan di Tokyo dan terdapat sebuah berita bahwa Jepang sedang mengalami kemunduran dalam bidang militer sehingga mandat untuk memanfaatan rakyat-rakyat kependudukan harus segera menjadi prioritas. Kolonel Horie Choso, Kepala kantor urusan agama di Jakarta melancarkan strategi dengan melakukan perjalanan keliling Jawa pada akhir tahun 1942 dan bertemu dengan para kyayi yang memiliki pesantren di seluruh wilayah Jawa. Dia memiliki pemikiran bahwa kyayi dapat menjadi alat ideal untuk memobilisasi dan mendoktrinasi para santri agar bersedia membantu militer Jepang dalam peperangan. Pada bulan Desember 1942, Horie mengatur agar diadakan pertemuan di Jakarta yang dihadiri oleh 32 kyayi dan memerintahkan agar Gunseikan menerima dengan baik para kyayi tersebut. Hal ini yang membuat para kyayi merasa istimewa karena merupakan sebuah kehormatan yang tidak pernah didapat pada masa Belanda.

Pada bulan April 1943 dibentuklah suatu korps pemuda semi militer yang diberi nama Seinendan. Pemuda yang diikutkan pada korps ini berusia antara 14 sampai 25 tahun. Seinendan memiliki cabang-cabang di desa-desa namun basis utama pergerakan tetap pada wilayah kota. Untuk usia 25 hingga 35 dibentuklah korps kewaspadaan atau yang diberi nama Keibodan. Pada pertengahan 1943 dibentuklah Heiho (Pasukan Pembantu) yang berfungsi sebagai tenaga bantuan angkatan laut Jepang. Sekitar 25.000 pemuda Indonesia tergabung dalam Heiho ini dan diberi pelatihan dasar yang sama seperti pelatihan serdadu Jepang. Pada tanggal 3 Oktober 1943, pemerintah Jepang meresmikan PETA (tentara Pembela Tanah Air) di Bogor, Jawa Barat. Keanggotaan PETA ini didominasi oleh santri dan ulama, termasuk 10 dari 32 santri diatas dilantik sebagai pemimpin PETA diwilayah masing-masing. Sementara K.H. Hasyim Asy’ari seorang tokoh NU dilantik sebagai penasehat PETA yang selalu menanamkan pemahaman pada pasukannya bahwa tujuan berperang ini karena Allah.

Setelah MIAI dianggap kurang dinamis dan kurnag bergelora dalam menopang perang Jepang. Pemerintah Jepang resmi membubarkan MIAI dan digantikan dengan Masyumi (Majelis syuro muslim Indonesia) pada tanggal 22 Nopember 1943 yang diketuai oleh K.H. Hasyim Asy’ari dan dibantu oleh K.H. Mas Mansyur, dan K.H. Farid Ma’ruf ( Sagimun MD : 36) .

Pemerintah kependudukan Jepang lebih banyak memberikan kebebasan Jika dibandingkan dengan pemerintah Belanda. Bahkan Jepang juga mengabulkan permintaan kesepuluh kyayi dengan membentuk tentara pembela tanah Jawa secara sukarela. Kesepuluh kyayi tersebut antara lain : KH. Mas Mansyur, Tuan Guru H. Mansoer, Tuan Guru H. Jacob,H Moh Sadri, KH. Adnan, Tuan Guru H. Cholid, KH. Djoenaedi,DR. H Kharim Amrullah, H. Abdoel Majid, dan U Mochtar.

Pemerintah Jepang mengerahkan tenaga seluruh rakyat Indonesia baik tua maupun muda untuk mempersiapkan perangnya. Namun dilain pihak, pemerintah Indonesia memanfaatkan hal ini untuk menempa diri baik secara fisik, strategi maupun spiritual untuk mempersiapkan tentara saat perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pemerintah Jepang juga memberi kebebasan kepada bangsa Indonesia untuk membentuk lasykar-lasykar lain sebagai binaan Jepang, yang kemudian akan dikenal dengan nama lasykar Hizbullah. Adapun menurut Syarifudin Zuhri, Lasykar Hizbullah merupakan inisiatif dari KH. Wachid Hasyim untuk melatih pemuda sebagai tentara non reguler. Lasykar Hizbullah dibentuk 4 Desember 1944.

Awalnya pemerintah Jepang melalui Abdul Hamid Ono meminta KH. Wachid Hasyim untuk mengerahkan santrinya ke dalam Heiho sebagai tentara yang akan dikirim ke Burma dan Perang Asia Pasifik. Namun KH. Wachid Hasyim menolak dengfan tegas tawaran tersebut mengingat dari berbagai alasan, diantaranya :

  1. Latihan kemiliteran yang diberikan pada para santri lebih baik diarahkan kepada perjuangan dalam negeri karena hal tersebut lebih menggugah semangat juang para santri. Dibanding bila harus ke negeri Jauh yang belum Jelas alasannya.
  2. Perang Asia Pasifik lebih baik dihadapi oleh pasukan profesional yakni pasukan Nipon sendiri. Dibandingkan harus dilakukan oleh pasukan yang belum profesional dikhawatirkan akan justru merepotkan Jepang.
  3. Menurut Wachid jika peta ditujukan untuk kalangan pemuda non pesantren maka sudah semestinya ada pula wadah pelatihan kemiliteran bagi pemuda pesantren.

Hal lain yang juga mendasari KH. Wachid Hasyim dan beberapa ulama lain mendirikan Lasykar Hizbullah karena seorang pemuda muslim mempunyai kewajiban mempertahankan agama Allah (Jihad). Sehingga para pemuda pesantren itu diberikan wadah sendiri untuk pendidikan militer melalui lasykar Hizbullah. Nama Lasykar Hizbullah sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti “Tentara Allah”. Tentunya tujuan didirikan lasykar Hizbullah sendiri untuk menopang cita-cita masyarakat Indonesia yakni kemerdekaan. Setelah hizbullah terbentuk para kyayi segera mengumumkan kepada seluruh umat islam diseluruh Indonesia agar bergabung dalam lasykar Hizbullah. Untuk mengumpulkan pemuda Indonesia dari seluruh negeri ini bukan suatu yang sulit bagi para ulama tersebut mengingat para pesantren yang ada diseluruh negeri memiliki cita-cita yang sama yakni kemerdekaan bagi tanah air.

Adapun syarat menjadi anggota hizbullah adalah sebagai berikut :

  1. Sebagaimana yang tersebut pada anggaran dasar pasal anggota, maka untuk menjadi anggota diwajibkan :
  2. Harus memasukan permintaan kepada pengurus
  3. Harus mengisi daftar yang disediakan untuk itu (Formulir)
  4. Harus mendapat izin dari orang tua
  5. Sesudah diterima sebagai anggota lasykar Hizbullah wajib untuk menaati peraturan yang berlaku
  6. Panitia Masyumi disetiap Shuu mengumpulkan anggota Hizbullah sebanyak-banyaknya namun berdasarkan ketentuan yang berlaku.

Pelatihan kemiliteran anggota lasykar Hizbullah dipercayakan kepada masyumi. Sedangkan latihannya dipimpin oleh Kapten Yanagawa dari Bappen. Pusat latihan Hizbullah dikelola oleh markas tertinggi Hizbullah di Jakarta yang dipimpin oleh KH. Zainal Arifin, Konsul NU. Calon Lasykar yang akan diberangkatkan ke Cibarusah, Jawa Barat terlebih dahulu akan didata di masjid yang terletak disamping masjid Hizbullah. Masjid Hizbullah sendiri terletak di Jalan Singosari berjarak 11 dari Malang kota.

Latihan semi militer yang diperoleh di Cibarusah dilenggarakan selama dua bulan. Pada angkatan pertama hanya terdapat 500 pemuda yang kemudian dirim ke tiap karisidenan di Jawa dan Madura. Masing-masing karisidenan terdapat 25 pemuda. Hingga akhir pembinaan terdapat sekurang-kurangnya 50.000 orang anggota. Meski latihan terbilang singkat namun hizbullah cukup memberi amunisi kepada pemuda muslim Indonesia. Sehingga saat pertempuran tahun 1945-1949 hizbullah memegang peran penting dalam peperangan di beberapa daerah bersama tentara-tentara reguler dan badan-badan perjuangan lain. Akhir Mei 1945 adalah penutupan latihan hizbullah dan sekaligus melantik 500 opsir sebagai pemimpin hizbullah di daerah masing-masing.

  1. Peran Hizbullah Mojoekerto

Dalam pertempuran Surabaya pada 10 November 1945 kita ketahui bahwa tidak hanya masyarakat Surabaya yang ikut serta. Masyarakat dari berbegai daerah terutama yang dekat dengan wilayah Surabaya berkontribusi dalam pertempuran tersebut. seperti Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Gresik, Malang, dll. Dari daerah – daerah tersebut terdapat laskar – laskar yang berjuang untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Berdirinya barisan Hizbullah di Mojokerto yang telah diprakarsai oleh K. Achyat Chalimi, Mansur Sholihin, Munasir, Munadi, Mustakim dan Abdul Halim. Setelah mengadakan rapat di langgar Achyat Chalimi, di desa Mentikan, Mojokerto, para tokoh umat islam mengumpulkan para pemuda Islam dari semua kecamatan di daerah Mojokerto untuk dilatih kemiliteran oleh 2 orang pemuda Mojokerto yang telah mengikuti latihan di Cibarusa, Mulyadi dan Achmad Qosim (Mat Yatim).

Walikota Surabaya Radjiman Nasution datang ke markas Hizbullah Mojoketo pada pertengahan November. Ia meminta pada tokoh Mojokerto agar mengumpulkan seluruh rakyat Mojokerto untuk ikut serta dalam peperangan yang sedang berlangsung. Selain para pemuda yang dihimbau untuk ikut, Ia juga meminta pada komandan Hizbullah Mojokerto mengharapkan kyai dan ulama Mojokerto dan menyampaikan himbauan agar para kyai turut maju ke garis depan. Permintaan tersebut disambut baik oleh salah satu tokoh ulama Mojokerto yaitu KH Nawawi. Seorang ulama terkenal Mojokerto yang terkenal santun dan lemah lembut. Persetujuan KH Nawawi seakaan menjadi komando bagi semua yang hadir, khususnya para Kyai Mojokerto. Keikutsetaan warga Mojoketo ternyata di luar dugaan. Jumlahnya melebihi kapatasitas yang disediakan sebelumnya. Truk yang mengangkut anggota Hizbullah Mojokerto yang berada di bawah komandon Munasir beberapa kali tertunda keberangkatanya karena terlalu penuh para pemuda yang ingin ikut ke medan perang. Berulang kali para pemimpin Hizbullah membujuk dan memberi pengertian agar sebagian mereka turun dan menunggu giliran truk berikutnya, namun permintaan itu ditolak karena para pemuda itu khawatir sama sekali tidak terangkut. Tidak jarang dari mereka kesal dan kecewa karena tidak terangkut, sehingga mereka memutuskan untuk keluar dari Hizbullah. Kemudian anggota Laskar Hizbullah yang sudah terangkut akan menggabungkan diri dengan Hizbullah Surabaya dimana juga teradapt gabungan dari Hizbullah Gresik, Hizbullah Sidoarjo, Hizbullah Jombang, Hizullah Jember, Hizbullah Situbondo, Hizbullah Malang.

Dalam pertempuran Surabaya itu semua pengiriman pasukan Hizbullah dari daerah – daerah langsung dibawah koordinasi Hizbullah Surabaya. Hizbullah kerasidenan Surabaya disatukan dalam satu divisi yang diberi nama divisi Sunan Ampel yang dipimpin oleh A. Wahib Wahab. Penggabungan ini bertujuan untuk memperkokoh  serta meningkatkan badan perjuangan umat Islam. Setelah dibentuk divisi Sunan Ampel , pasukan dientuk secara reguler dan teratur, mulai kompi, peleto, seksi dan regu.   Sektor pertahanan Surabaya oleh pasukan Hizbullah sudah dibentuk sejak pecahnya pertempuran 28 Oktober dengan pembagiannya, adalah :

  1. Surabaya timur bermakas di Nyamplungan dipimpin KH. Nafik dan Achyar
  2. Surabaya tengah menempati Madrasah NU Kawatan sebagai markasnya dibawah pimpinan Husaini Tiway dan Mochammad Muhajir
  3. Surabaya barat dipimpin oleh A. Hamid Has menempati bekas rumah J. Meger di Kembang Kuning gang III sebagai markarnya
  4. Surabaya selatan diserahkan pimpinannya pada Mas Ahmad, Syafi’i, Abid Salehyang bermarkas di Pesantren Sidoresmo
  5. Surabaya timur dipmpin Mustaqin Zain, Abdul Manan dan Achyat dengan mengambil tempat d Sido Kapasan.

Dengan segenap kekuatannya, akhirnya Inggris berhasil mendesak kedudukan para pejuang. Garis pertahanan baru segera dibuat dengan memanfaatkan rintangan alam. Di sebelah barat pertahanan dibuat di daerah Gunugsari dan Jembatan Wonokromo dengan memanfaatkan sungai sebagai batasnya. Gunungsari merupakan daerah yang sudah dipersiapkan sejak zaman penjajahan Belanda sebagai benteng pertahanan Surabaya. Di wilayah yang berbukit – bukit itu banyak bangunan beton perlindungan yang kuat antara satu dengan lainnya dihubungkan dengan parit – parit. Tanpa ada perintah komando, hampir semua kesatuan perjuangan menempatkan pasukannya di daerah tersebut sebagai benteng terakhir. Namun, pada akhirnya Inggris dapat memukul mundur para pejuang dan menguasai wilayah Surabaya.

Surabaya ditinggalkan oleh para pejuang pada tanggal 1 Desember 1945. Setelah setelah bertarung tiada henti mulai 10 November 1945. Dengan ditinggalkannya oleh para pejuang, sekutu dapat menduduki Surabaya. Hal tersebut menyebabkan pemerintah provinsi Jawa Timur dan karesidenan Surabaya segera dipindahkan ke Sepanjang. Perpindahan tersebut berdasarkan faktor keamanan dan keselamatan pemerintahan yang harus tetap ada sebagai perwujudan bahwa Indonesia telah merdeka dengan struktur pemerintahan yang berdaulat. Ternyata perpindahan di Sepanjang tidak berlangsung lama, hanya tiga hari selanjutya dipindahkan ke Mojokerto menempati komplek kantor Kabupaten Mojokerto. Namun Inggris tidak sepenuhnya aman untuk mengontrol kekuasaannya karena kerapkali pasukan Hizbullah  dan juga badan perjuangan lain sering menyusup ke dalam kota ketika malam. Hmpir setiap malam mereka masuk ke kota dan menggangu kedudukan musuh. Seperti yang dilakukan oleh Hizbullah Surabaya Barat yang bermarkas di Kedurus yang menyusup ke Surabaya bersama Pasukan Saleh Hasan dan juga kompi Motosin. Pasukan ini masuk melalui Lidah turun ke kuburan Kembang Kuning dan mengacaukan daerah Kun Bloverd sekarang Jl. Dr. Soetomo.

Di  Mojokerto pejuang menyusun garis depan pertahanan baru dan taktik untuk berjuang melawan sekutu. Slah satu garis pertahanan Hizbullah disusun kembali untuk menghadapi sekutu. Ditetapkan Divisi Sunan Ampel ada di Mojokerto. Susunan kepemimpinan Hizbullah Divisi Sunan Ampel adalah ;

Komandan Divisi : A. Wahib Wahab

Kepala Staf I : M. Rachmad Arif

Kepala Staf II : M. Smaiun Somadi

Sekretaris : Muhamsa (MH Madchan)

Staf Sekretaris : 1. M. Mas’ud Noor

  1. M. Said Noor

Bagian Organisasi

Personalisa : M. Alwi

Staf organisasi / personalia : M. Alwi

  1. M. Ma’sum Irsyad

Bagian Penerangan : Husaini Tiway

Staf Perlengkapan / perbekalan : M. Adnan Ismail

Anggota : : Achmad Ponijan

Bagian Siasat : M. Munasir

Anggota : 1. M. Cara Amir

  1. M. Sochib

Bagian kendaraan : Harun

Staf bagian kendaraan : 1. M. Suhud

  1. M. Kasah
  2. Mahfiz
  3. M. Romli

Dokter divisi : dr. Angka Nitisastro

Dan Salah satu taktik yang digunakan dengan memanfaatkan pintu air Sungai Brantas yang berada di Mojokerto. Kali Mas yang arah alirannya menuju Surabaya diatur oleh pintu air Mlirip, sedangkan Kali Porong yang mengalir ke arah Porong Sidoarjo diatur dengan pintu air Lengkong. Apabila salah satu dari kedua pintu air itu ditutup dan sementara lainnya dibuka maka akan terjadi kekeringan dan banjir di daerah bawahnya. Tindakan pengeringan dengan menutup sepenuhnya dam mlirip justru berdampak besar karena sangat menganggu secara ekonomi. Akibatnya, pada tanggal 11 September 1946 Kementerian Pertahanan menerima sepucuk surat dari pimpinan tentara Belanda di Surabaya. Surat tersebut dikirim melalui perantara staf tentara Sekutu di Jakarta. Dalam surat itu diterangkan bahwa pertanian yang mereka duduki sangat menderita kekurangan air. Karena pintu air yang terletak dalam daerah yang dikuasai republik, maka pimpinan tentara Belanda itu meminta, supaya pihak republik suka memberi mereka pembagian air untuk pembagian ar tersebut.

Segera mungkin para petinggi republik menyadari bahwa apa yang dilakukan di Mojokerto memiliki arti penting dalam meja perudingan. Perundingan mengenai persolaan air tersebut tidak kunjung mendapatkan titik temu. Mulai terasa adanya gelagat Belanda untuk menyerang dan merebut pintu air Sungai Brantas. Penutupan pintu air Mlirip terus dilakukan sampai terjadinya kesepakatan gencatan senjata pada tanggal 14 Oktober 1946. Setelah itu terus diadakan pembicaraan soal pembukaan pintu air tersebutdan setelah tercapai kesepatan, maka dibukalah kembali pintu air Mlirip dan air sungai Brantas kembali mengalir ke Surabaya. Untuk menyelesaikan dan membuka pintu air Mlirip pemerintah mengutus Suryomiharjo dari Pekerjaan Umur ke Surabaya. Akibatnya genangan air yang mengaliri sungai Kali Mas terlalu banyak dan semakin lama semakin besar yang mengakibatkan banjir. Ditambah lagi waktu itu musim kemarau berakhirn dan memasuki awal musim hujan menjelang akhir tahun 1946.

Permasalahan air menjadi semakin kruasial antara pihak sekutu dan pihak republik. Belanda ingin merebut pintu air tersebut melalui gerakan militer. Upaya tersebut mendapatkan perlawanan keras dari republik melalui front – front pertahanan mulair dari Cermen, Legundi, Krian, Sukodono, dan Buduran. Front pertahanan tersebut untuk melindungi kota Sioaarjo di selatan Surabaya dan Mojokerto di barat Surabaya. Belanda berhasil menduduki Krian dan Sidoarjo. Pasukan republik segera menyusun pertahanan abru di seberang Kali Porong – Mojosari, Prambon dan jalan raya Krian Mojokerto. Maka secara tidak langsung Mojokerto sebagai ibukota Jawa Timur sudah menjadi garis depan. Pada 17 Maret 1947 pasukan Belanda sudah masuk ke jalanan koa Mojokerto. disaat yang sama, pesawat terbang Belanda menyerang daerah sekitar Mojokerto antara lain Mlirip, Trowulan dan Gempolkrep. Sementara itu pasukan Hizbullah yang ditempatkan di garis pertahanan Mojosari – Japanan, yaitu pasukan kompi Achmad Chalimy dari batalyon Munasir tidak bisa berbuat banyak. Dalam waktu singkat, tentara Belanda telah menguasai wilayah Mojosari. Kemudian, dikirimkanlah kurir untuk menyampaikan pergerakan Belanda yang mengancam pasukan republik di Mojokerto. mendapat laporan tentang masuknya Belanda dalam kota, Masyur Sholihi segera memerintah evakuasi barang – barang dari Markas utara alun – alun. Pemindahan itu hanya menggunakan satu truk yang membawa ke Ngares Gedeg. Hal inilah yang mengakhiri perjuangan lasykar Hizbullah di Mojokerto. Karena kemudian wilayah karisidenan surabaya akan dipindahkan ke wilayah Kediri.

Kesimpulan

Perjuangan untuk membela kemerdekaan Indonesia tidak berakhir selepas pembacaan naskah proklamasi, namun hal tersebut berlanjut ketika tentara sekutu datang diboncengi dengan NICA. Dengan niat awal untuk melucuti persenjataan tentara Jepang dan membebaskan tawanan dari Tentara Jepang, namun memiliki niat lain yakni ingin kembali menegakan kolonialisme Belanda di Indonesia. Pertempuran di Surabaya tidak dapat terelakan ketika pemuda Indonesia mengetahui niat dari Belanda. Pertempuran memuncak dipicu oleh meninggalnya salah satu panglima tertinggi Belanda AWS Mallaby. Pemuda Indonesia memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi dan tidak bersedia untuk takluk pada sekutu setelah penjatuhan ultimatum tanggal 9 Nopember yang berisi anjuran untuk menyerah.

Pejuang dari pertempuran di Surabaya mayoritas adalah pemuda. Salah satunya yang tergabung dalam lasykar Hizbullah. Sebuah lasykar semi militer yang dibentuk saat pemerintahan Jepang di Indonesia. Pemuda yang tergabung dalam lasykar Hizbullah ini umumnya adalah pemuda islam yang besar dari basis pesantren. Selain berjuang ketika pertempuran 10 Nopember. Lasykar hizbullah juga menjadi barisan terdepan pasc a perang 10 Nopember, ketika ibukota pemerintahan Jawa Timur ditarik mundur dari wilayah Surabaya dan berpindah ke sepanjang sebelum akhirnya ke Mojokerto.

Di wilayah mojokerto inilah perjuangan keras dari Lasykar Hizbullah seluruh Indonesia yang berkumpul untuk pertempuran Surabaya diuji. Pasalnya berbagai taktik dan strategi yang dilancarkan oleh pasukan lasykar hizbullah harus kembali menelan pil pahit karena dikalahkan oleh pasukan dari Sekutu. Hal ini pula yang membuat pemerintahan Surabaya digeser ke Wilayah Kediri. Dan menjadi akhir dari perjuangan lasykar Hizbullah di Mojokerto.

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Suparto Brata, 2006, “Pemicu pertempuran 10 Nopember”, http://supartobrata.blogspot.co.id/2007/09/berita-akan-mendaratnya-tentara-sekutu_14.html diakses pada 20 Juli 2017

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s